Sepak bola piala Eropa; Internasionalisme vs Nasionalisme

Perhelatan perebutan Piala Europe dalam ajang kompetisi bola kaki menjadi trending pembicaraan semua kalangan. Dari anak-anak sampe orang dewasa, semua antusias membahas event ini. Antusiasme yang tinggi juga menjangkiti semua tatanan sosial yg ada di Indonesia. Di media sosial, tak pelak foto bendera, pemain menghiasi foto profil para pengguna akun medsos. Lebih antusias lagi, terpantau ada banyak bendera Eropa bertebaran, terpasang dibumbungan rumah atau halaman rumah penduduk. Mungkin saja prilaku tersebut hanyalah ekspresi euforia karena kecintaan terhadap tim idola dan negara yg diwakili. Atau juga sekedar ikut-ikutan meramaikan suasana yang sementara trending ini dan menampakan sisi sosial sebagai manusia yg ikut trend up to date.
Disisi lain, kritik besar muncul dari perpektif nasionalisme, yang menganggap memasang bendera negara lain di atas tanah Indonesia adalah sebentuk pemberontakan terhadap identitas kebangsaan. Rasa nasionalisme semakin memudar tatkala euforia ini dikomparasi dengan prestasi dan capaian bangsa Indonesia dalam iven Sepak Bola. Terkonstruksi dalam benak, apanya yg harus dibanggakan dengan menampilkan bendera negara kita. Lambat namun pasti, Sadar atau tidak, akan muncul perasaan minder untuk memunculkan Bendera Indonesia sebagai lambang negara kita sekalipun pada moment yg menuntut pengibaran bendera negara seperti Hari Kemerdekaan dan momen bersejarah lainnya. Alasannya jelas, kita kehilangan kebanggaan terhadap bendera sendiri. Karena secara phsikologis, euforia sepak bola europe telah mereduksi nilai kebangsaan berindonesia, kebanggaan berbangsa indonesia, dan kedaulatan tanah indonesia. Bangsawan Pramoedya Anantatoer pernah berkata, "Adilah dimulai dari cara berpikirmu, Jangan mau dijajah; jiwa dan pikiran kita".
Rasanya tulisan ini akan ditentang keras oleh para penikmat fanatik sepak bola, namun bisa juga tulisan ini adalah sebuah tantangan hebat; mampukah kita menjadi penikmat sepak bola "Piala Eropa" dengan cara dan nilai ke-indonesia-an? tanpa harus melukai amanat perjuangan bangsa terhadap berdiri tegaknya Bendera Indonesia diseluruh nusantara dan melekat eratnya moral bernegara Indonesia dalam diri setiap anak bangsa. Karena generasi penerus kelak lebih memilih mempercayai apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka baca.

Agitasi dan Propaganda

Awalnya ini hanya sebuah lelucon yang berpotensi menjadi senjata atau boomerang seorang aktivis, namun kamu sendirilah yang menentukan potensi lelucon ini mau jadi apa pada akhirnya.
Pengalaman mahasiswa saya sewaktu kuliah di UNIMA banyak berkutat pada pergaulan organisasi dan kepemimpinan, yang notabene banyak memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada saya tentang komunikasi efektif. Diantaranya adalah cara melakukan agitasi dan propaganda.
I.      ISTILAH AGITASI DAN PROPAGANDA

A.      AGITASI
1.    Menurut kamus Oxford, mengagitasi adalah “membangkitkan perhatian (to excite) atau mendorong (stir it up)”, sedangkan propaganda adalah sebuah “rencana sistematis atau gerakan bersama untuk penyebarluasan suatu keyakinan atau doktrin.
2.    Dalam kamus besar bahasa indonesia, agitasi diartikan sebagai :
a.       hasutan kepada orang banyak yang biasanya dilakukan oleh politikus
b.       pidato berapi-api untuk mempengaruhi massa
c.       pengadukan
3.    Dalam kamus Webster World Dictionary, Agitate dan Agitation memiliki arti :
Agitate,
a.       To stir or shake up move violently
b.       To excite or disturb the feeling of…
c.         to stir up interest and support trough speaches and writing to cause change
Agitation,
a.       The act of stiring or shaking violently
b.       A disturbing or  exciting of the feeling
c.        Talk or writing meant to stir up people and produce change
4.       Dalam makna denotatifnya, agitasi berarti hasutan kepada orang banyak untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan dan lain sebagainya.

B.    PROPAGANDA
Propaganda, secara istilah diartikan sebagai : Penerangan yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu keyakinan, sikap atau arah tindakan tertentu. Propaganda juga berarti penyebaran ide, informasi, tujuan dan kampanye yang tengah dilakukan dengan tujuan agar orang lain dapat menerimanya.
Propaganda sendiri berarti penerangan ( paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang lain agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu. Kegiatan propaganda ini banyak dipakai oleh berbagai macam organisasi baik itu orgnisasi massa, parpol, hingga perusahaan yang berorientasi profit sekalipun baik kepada kawan, lawan maupun pihak netral. Propaganda juga merupakan inti dari kegiatan perang urat syaraf (nerve warfare) baik itu berupa perang ideologi, politik, ide, kata-kata, kecerdasan, dll.
Definisi ini bukan merupakan titik pijak yang buruk. Agitasi memfokuskan diri pada sebuah isu aktual, berupaya ‘mendorong’ suatu tindakan terhadap isu tersebut. Propaganda berurusan dengan penjelasan gagasan-gagasan secara terinci dan lebih sistematis.
Seorang marxis perintis di Rusia, Plekhanov, menunjukkan sebuah konsekuensi yang penting dari pembedaan ini. “Seorang propagandis menyajikan banyak gagasan ke satu atau sedikit orang; seorang agitator menyajikan hanya satu atau sedikit gagasan, tetapi menyajikannya ke sejumlah besar orang (a mass of people)”. Seperti semua generalisasi yang seperti itu, pernyataan di atas jangan dipahami secara sangat harfiah. Propaganda, dalam keadaan yang menguntungkan, bisa meraih ribuan atau puluhan ribu orang. Dan ‘sejumlah besar orang’ yang dicapai oleh agitasi jumlahnya sangat tidak tetap. Sekalipun demikian, inti dari pernyataan Plekhanov itu memiliki landasan yang kuat (sound).


II.             BANYAK GAGASAN KE SEDIKIT ORANG
Lenin, dalam What is to be done, mengembangkan gagasan ini:
"Seorang propagandis yang, katakanlah, berurusan dengan persoalan pengangguran, mesti menjelaskan watak kapitalistis dari krisis, sebab dari tak terhindarkannya krisis dalam masyarakat modern, kebutuhan untuk mentransformasikan masyarakat ini menjadi sebuah masyarakat sosialis, dsb. Secara singkat, ia mesti menyajikan “banyak gagasan”, betul-betul sangat banyak, sehingga gagasan itu akan dipahami sebagai suatu  keseluruhan yang integral oleh (secara komparatif) sedikit orang. Meskipun demikian, seorang agitator, yang berbicara mengenai persoalan yang sama, akan mengambil sebagai sebuah ilustrasi, kematian anggota keluarga seorang buruh karena kelaparan, peningkatan pemelaratan (impoverishment) dsb., dan penggunaan fakta ini, yang diketahui oleh semua orang, akan mengarahkan upayanya menjadi penyajian sebuah gagasan tunggal ke “massa”. Sebagai akibatnya, seorang propagandis bekerja terutama dengan mamakai bahasa cetak; seorang agitator dengan memakai bahasa lisan."
Mengenai pokok pikiran yang terakhir, Lenin keliru, karena ia terlalu berat-sebelah. Seperti yang ia sendiri nyatakan, sebelum dan sesudah ia menulis pernyataan di atas, sebuah surat kabar revolusioner bisa dan mesti menjadi agitator yang paling efektif. Tetapi ini merupakan masalah sekunder. Hal yang penting adalah bahwa agitasi, apakah secara lisan atau tertulis, tidak berupaya menjelaskan segala sesuatu. Jadi kita menyatakan, dan mesti menyatakan, bahwa para individu buruh tambang yang menggunakan pengadilan kapitalis untuk melawan NUM adalah buruh pengkhianat, bajingan (villains), dipandang dari segi perjuangan sekarang ini; betul-betul terpisah dari argumen umum tentang watak negara kapitalis. Tentu kita akan mengajukan argumen, tetapi kita berupaya ‘membangkitkan perhatian’, ‘mendorong’, ‘membangkitkan rasa tidak senang dan kemarahan’ terhadap pengadilan di sebanyak mungkin buruh. Ini mencakup mereka (mayoritas besar) yang belum menerima gagasan bahwa negara, negara apapun dan pengadilannya, pasti merupakan sebuah instrumen dari kekuasaan kelas.
Atau ambil sebuah contoh lain. Lenin berbicara tentang “ketidakadilan yang amat parah” (crying injustice). Namun, sebagai seorang pengikut Marx yang mendalam, ia betul-betul mengetahui bahwa tidak ada ‘keadilan’ atau ‘ketidakadilan’ yang terlepas dari kepentingan kelas. Di sini, ia menunjuk dan berseru pada kontradiksi antara konsep ‘keadilan’ (‘justice’ or ‘fairness’) yang dipromosikan oleh para ideolog masyarakat kapitalis dengan realitas yang terekspos dalam perjalanan perjuangan kelas. Dan hal itu mutlak benar dari sudut pandang agitasi.
Seorang propagandis, tentu saja, mesti menyelidiki secara lebih mendalam, mesti meneliti konsep keadilan, perkembangan dan transformasinya melalui berbagai masyarakat berkelas yang berbed a, isi kelasnya yang tak terhindarkan. Tetapi hal itu bukan merupakan tujuan utama dari agitasi. Para ‘marxis’ yang tidak memahami pembedaan ini menjadi korban dari ideologi borjuis, menjadi korban dari generalisasi yang lepas dari konteks waktu (timeless generalisations), yang mencerminkan masyarakat berkelas yang diidealisasikan. Yang paling penting, mereka tidak memahami secara konkrit bagaimana sebenarnya sikap kelas buruh berubah. Mereka tidak memahami peran pengalaman, sebagai contoh, pengalaman tentang peran polisi dalam pemogokan para buruh tambang. Mereka tidak memahami perbedaan antara agitasi dan propaganda.
Kedua hal itu penting, sangat diperlukan, tetapi keduanya tidak selalu bisa dikerjakan. Agitasi memerlukan kekuatan yang lebih besar. Tentu saja seorang individu terkadang bisa mengagitasi sebuah keluhan tertentu secara efektif, katakanlah, keluhan mengenai kurangnya sabun atau tissue toilet yang layak di sebuah tempat kerja tertentu, tetapi sebuah agitasi yang luas dengan sebuah fokus yang umum tidaklah mungkin tanpa sejumlah besar orang yang ditugaskan dengan pantas untuk melaksanakannya, tanpa sebuah partai.
Jadi apa pentingnya pembedaan tersebut sekarang ini? Untuk sebagian besar, para sosialis di Inggris tidak berbicara ke ribuan atau puluhan ribu orang. Kita sedang berbicara ke sejumlah kecil orang, biasanya berupaya meyakinkan mereka (to win them) melalui politik sosialis yang umum, dan bukan melalui agitasi massa. Jadi apa yang kita usulkan (arguing) pada dasarnya adalah propaganda. Tetapi di sinilah kebingungan muncul. Karena terdapat lebih dari satu jenis propaganda. Ada sebuah pembedaan antara propaganda abstrak dan jenis propaganda yang diharapkan dapat mengarah ke suatu aktivitas, yaitu propaganda yang konkrit atau realistic.
Propaganda abstrak memunculkan gagasan yang secara formal benar, tetapi tidak terkait dengan perjuangan atau dengan tingkat kesadaran yang ada di antara mereka yang menjadi sasaran dari penyebaran gagasan itu. Sebagai contoh, menyatakan bahwa di bawah sosialisme sistem upah akan dihapuskan adalah mutlak benar, menempatkan usulan yang seperti itu kepada para buruh sekarang ini bukanlah agitasi, melainkan propaganda dalam bentuk yang paling abstrak. Begitu pula, usulan terus-menerus  (constant demand) untuk sebuah pemogokan umum, terlepas dari apakah prospek untuk melakukannya bersifat riil dalam situasi yang sekarang, mengarah tidak ke agitasi, melainkan ke penarikan diri (abstaining) dari perjuangan yang riil di sini dan sekarang.
propaganda realistis berpijak dari asumsi bahwa kelompok-kelompok sosialis yang kecil tidak dapat secara meyakinkan mempengaruhi kelompok-kelompok buruh yang besar sekarang ini di hampir setiap keadaan. Tetapi hal itu juga mengasumsikan bahwa terdapat argumen tentang isu-isu spesifik, yang dapat dicoba untuk dibangun oleh para sosialis. Jadi seorang propagandis realistis di sebuah pabrik tidak akan mengusulkan penghapusan sistem upah. Ia (laki-laki atau perempuan) akan mengusulkan serangkaian tuntutan yang diharapkan dapat mengarahkan perjuangan ke kemenangan, dan sudah tentu melebihi kemenangan kecil (tokens) yang diberikan oleh bikorasi serikat buruh. Jadi mereka akan mengusulkan, misalnya, peningkatan ongkos rata-rata setiap produk (a flat rate increase), pemogokan mati-matian dengan tuntutan penuh (the full claim, all out...strike) dan bukan pemogokan yang selektif, dsb.

III.            MENYEIMBANGKAN AGITASI DENGAN PROPAGANDA SECARA BENAR (GETTING THE BALANCE RIGHT)
Semua ini bukanlah agitasi dalam arti yang dibicarakan oleh Lenin, hal itu adalah satu atau dua orang sosialis yang memunculkan serangkaian gagasan tentang bagaimana untuk menang. Tetapi hal itu juga bukan propaganda abstrak karena hal itu terkait dengan sebuah perjuangan yang riil dan karenanya bisa terkait dengan minoritas buruh yang cukup besar di suatu wilayah. Ini berarti bahwa propaganda realistis dapat membangun hubungan (strike a chord) dengan sekelompok orang yang jauh lebih besar daripada mereka yang sepenuhnya terbuka untuk gagasan-gagasan sosialis. Bahwa sekarang ini hanya sekelompok orang yang sangat kecil yang akan terbuka untuk semua gagasan-gagasan sosialisme. Kelompok yang lebih besar tidak akan seperti itu, tetapi masih bisa menerima banyak propaganda dari kaum sosialis untuk tidak mempercayai para pejabat, untuk mengorganisir di lapisan bawah (the rank and file) dan sebagainya.
Pentingnya pembedaan ini ada dua (twofold). Para sosialis yang mempercayai bahwa mereka harus melakukan propaganda di kelompok-kelompok diskusi mereka yang kecil, dan mengagitasi di tempat kerja mereka, sangat mungkin menaksir terlalu tinggi (overestimate) pengaruh mereka di sejumlah besar buruh dan dengan demikian kehilangan kesempatan untuk membangun basis di sekitar sejumlah kecil pendukung. Mereka yang percaya bahwa mereka hanya harus melakukan propaganda abstrak dalam diskusi-diskusi mereka dengan para sosialis yang lain dan di tempat kerja mereka bisa mengambil sikap menarik diri ketika perjuangan yang riil benar-benar meletus.
Dengan melakukan propaganda realistis pada sebuah periode di mana agitasi massa secara umum tidak mungkin, kaum sosialis akan jauh lebih mungkin untuk dapat menghindari kedua jebakan tersebut.

IV.           SARANA AGITASI DAN PROPAGANDA

Sebenarnya agitasi dan propaganda telah dikenal manusia sejak manusia bias berkomunikasi antar sesamanya. Seperti juga kita yang seringkali berusaha untuk meyakinkan orang lain untuk menerima dan mengusahakan apa yang kita inginkan, maka propaganda adalah kegiatan yang bertujuan agar apa yang kita inginkan dapat tersebar dan diterima oleh orang lain. Dalam kerja organisasi gerakan, kegiatan agitprop dapat dipahami sebagai :
Langkah gerakan untuk mendapatkan simpati, penerimaan ide, dan penyebaran keinginan, tuntutan yang dapat mempengaruhi massa untuk ikut dalam gerakan, organisasi atau melakukan perubahan.

Agitprop dapat dilakukan dengan cara lisan maupun tulisan dengan media apapun yang dapat menjangkau massa dengan seluas-luasnya. Metode lapangan dari Agitprop dapat di sesuaikan dengan situasi lingkungan, jenis audience, tempat secara geografis dan geopolitik, waktu, apa yang disebarkan ; ide, ajakan, tuntutan, kegiatan, disusikan dengan kondisi keamanan gerakan.

Hasil dari survey, dan pembacaan medan akan mempermudahkan kita dalam menyususn langkah-langkah agitasi dan propaganda yang akan dijalankan.
Tiga syarat penting yang harus dipenuhi sebelum melakukan Agitprop adalah :
  1. Watak dan Kredibilitas
  2. kemampuan untuk mengendalikan emosi para audience
  3. Fakta-fakta pendukung.


V.             BEBERAPA TEHNIK-TEHNIK AGITPROP
  1. Rasionalisasi, suatu proses penggunaan akal untuk memberikan suatu dasar pembenaran pada suatu persoalan dimana dasar atau alas an itu tidak merupakan suatu sebab langsung dari masalah.
  2. Sugesti, usaha membujuk atau mempengaruhi orang lain tanpa suatu dasar kepercayaan logis dengan menggunakan kemampuan verbal, kesan atau nada suara.
  3. Konformitas, Mekanisme mental untuk menyesuaikan diri dengan sesuatu yang diinginkan. Dalam Agitprop cara ini digunakan untuk lebih mudah masuk kedalam komunitas yang akan menjadi target propaganda. Perbedaanya dengan identifikasi adalah ; dalam konformitas, agitator berusaha memperlihatkan dirinya sebagai orang yang mampu berbuat dan bertindak sebagai bagian dari audiens. Sementara dalam Identifikasi, agitator hanya berusaha menyajikan beberapa hal yang menyangkut hubungan dengan audiens.
  4. Identifikasi, tehnik ini menggunakan kemampuan seorang agitator dalam menganalisa audiensnya untuk lebih mengenal audiensnya dan seluruh situasi, supaya dirinya bias mengidentifikasikan dirinya dengan audiens. Contoh : dalam usaha memenangkan pemilu, maka seorang pengkampanye akan dengan mudah mengidentifikasikan dirinya sebagai anak rakyat yang akan memperjuangkan keinginan rakyat dalam parlemen.
  5. Konpensasi, adalah tehnik Agitprop dengan tujuan akhir menunjukkan pengganti bagi sesuatu yang tidak bisa di terima dan tidak disukai atau keadaan yang tidak dapat dipertahankan lagi. Tehnis ini lebih mengutamakan usaha meyakinkan target bahwa mereka mampu melakukan perubahan untuk meemperbaiki keadaan itu.
  6. Replace, usaha Agitprop untuk menggantikan sesuatu secara sentiment emosional mengikat target, hal ini dapat dicontohkan dengan fenomena “pengkambinghitaman”. Tujuan utama dari tehnis Agitprop ini adalah menyingkirkan rintangan yang menghalangi pelaksanaan tujuan secara langsung atau tidak langsung.
  7. Proyeksi, tehnik ini berusaha untuk menggantikan subyek menjadi obyek. Watak seseorang dilontarkan bukan lagi sebagai wataknya tetapi sebagai watak orang lain. Agitprop ini sangat penuh dengan lontaran-lontaran tuduhan untuk mengalihkan perhatian maupun untuk melemparkan maslah pada orang lain. Pada dasarnya ini sama dengan pengantian namun lebih cenderung pada pendekripsi berlebihan.

Manusia terdiri dari pikiran dan roh, ia bertindak dan melakukan reaksi terhadap sesuatu dengan pemikiran dan sentiment perasaannya. Dalam pada itu hanya dua focus yang akan terjadi saat ia menerima sesuatu termasuk Agitprop yaitu ; secara nyata / kongkret dengan dasar rasionalitasnya -> berpikir atau idealis, dengan lingkupan emosionalnya -> sentiment.


PENUTUP

Dalam bagiannya seorang agitator, harus bisa masuk secara emosional dengan targetnya. Ia harus menjaga kestabilan perasaanya juga dalam saat yang bersamaan untuk bisa secara efektif mengontrol perasaan dari target.
           
Penggunaan gaya bahasa dan pilihan kata yang tepat baik dalam tulisan maupun lisan hanya dapat ditemukan dalam kemampuan yang sudah terlatih. Seorang agitator yang telah berpengalaman akan dengan mudah menentukan apa yang akan dilakukannya dan dipilihnya sebagai metode di lapangan. Selain itu, seorang propagandis akan lebih mudah menyusun karangan persuasive dan argumentatifnya jika dapat secara emosional dan rasional mengetahui targetnya. Jadi agitasi dan propaganda yang akan  dilakukan tidak dapat begitu saja disamakan atau diseragamkan. Semakin banyak bagian yang bisa dimasuki oleh seorang agitator semakin terujilah kemampuannya.

Harus dibedakan pula seorang agitator dengan provokator. Karena seorang agitator yang baik harus memiliki tiga syarat utamanya dalam melakukan agitasi dan propaganda terutama fakta dan logisnya agitasi yang dilancarkan. Dan tidak semua provokator itu jelek dan bermakna negative…………

Hipnotis dan Penangkalnya

Setiap hari pasti kamu keluar rumah. Ketika di jalan kamu harus berhati-hati karena banyak sekali bahaya yang mengancam, seperti penodongan, pencurian, penipuan tak terkecuali dengan hipnotis. Kalau penodongan, penculikan atau pencurian kita bisa meminta bantuan orang lain karena kita sadar. Tapi kalau hipnotis bagaimana, saat itu diri sendiri di alam bawah sadar dipengaruhi oleh energi negatif.

Hipnotis adalah bagian dari seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang agar mengubah tingkat kesadarannya. Untuk itu, sebaiknya kita harus selalu berusaha menjaga diri agar terhindar dari hipnotis yang mempengaruhi alam bawah sadar. Inilah 7 cara mudah agar aman dari hipnotis.
  • Teguhkan hatimu; Hipnotis takkan mempan pada orang yang bisa menolaknya. Karena metode hipnotis itu adalah mensugesti diri sendiri atau self hypnosis. Jadi, teguhkan hatimu dimanapun berada supaya hipnosis tak bisa menyentuhmu. Jangan takut dan berdoa selalu dalam hati.
  • Waspada terhadap orang yang sok kenal; Di jalan atau di kendaraan umum banyak kita jumpai orang yang sok kenal, tiba-tiba menyapa. Sehingga perlu hati-hati khususnya pada orang sok dekat atau mencurigakan. Proses hipnosis bisa masuk dalam diri melalui teknik komunikasi yang persuasif. Ketika berbicara dengan orang lain tetaplah sadar dan ingat kepada Tuhan.
  • Jangan suka melamun; Hindari melamun, jangan biarkan pikiranmu kosong. Pikiran yang kosong akan membuka alam bawah sadarmu sehingga sangat mudah dipengaruhi atau disugesti. Ketika di jalan, sebaiknya usahakan agar dirimu tetap fokus.
Inilah 9 Gejala Sakit Ginjal yang Perlu Kamu Waspadai
  1. Waspada terhadap kondisi tubuh yang janggal; Jika tubuh tiba-tiba mengantuk, mual, pusing atau dada terasa sesak maka, sebaiknya berdoa lebih kuat lagi. Sebab, hal tak wajar dapat terjadi akibat seseorang berusaha melakukan telepathic forcing pada dirimu.
  2. Hati-hati pada tepukan orang asing; Hati-hati dengan tepukan orang secara tiba-tiba. Sebiasanya hindari percakapan atau obrolan terhadap orang yang mencurigakan itu. Apabila kita telah fokus pada perkataan yang dilontarkan seseorang maka, dirimu akan tersugesti olehnya. Segera pindah tempat dan hindari obrolan itu agar kamu tidak terpengaruh.
  3. Sugestikan dirimu agar selalu sadar; Ketika ada sesuatu yang aneh memasuki kesadaranmu, segera sugestikan dirimu untuk selalu sadar. Perintahkan dirimu dengan berkata “ Aku sadar dan normal sepenuhnya.” Dengan begitu pengaruh hipnosis tidak bisa merasuki tubuhmu.
  4. Pergilah dengan teman; Cara untuk aman dan nyaman saat bepergian adalah dengan mengajak teman. Terlebih lagi jika kamu mempunyai kebiasaan latah, akan mudah terpengaruh oleh hipnosis. Dengan hadirnya teman, kamu mempunyai teman bicara dan tidak mudah melamun selama perjalanan.
Itulah 7 langkah waspada agar kamu terhindar dari hipnotis. Pada intinya, kamu harus selalu menjaga diri dengan baik di jalan. Selain itu simpan benda penting dengan baik dan jangan menggunakan hal yang memicu seseorang berbuat jahat kepadamu (www.banyakbaca.com)

Sejarah dan Asal-muasal FPI

Sejarah dan Asal-muasal FPI (Front Pembela Islam) (Atau Front Polisi Indonesia)

"Adakah yang meraih keuntungan di balik FPI? Jelas ada, yang untung ya Polri dan Pemerintah, nama mereka bersih, rakyat di adu domba, nama islam tercemar. Isu2 strategis terkendali"

"Front Polisi Indonesia yang menyamar sebagai Ormas Islam. Agenda FPI adalah agenda polisi. Berdasarkan laporan CIA malah BIN juga ikut membantu".

FRONT PEMBELA ISLAM atau FPI adalah ormas yg paling fenomenal dan kontroversial di Indonesia. Dicaci-maki oleh rakyat tapi dibutuhkan penguasa. FPI itu bukan ormas agama. Bukan ormas Islam. FPI itu ormas biasa yang dibentuk oleh pemerintah kita sendiri dan TNI/Polri pasca reformasi. Cikal bakal FPI adalah Pam Swakarsa yg dirikan Panglima ABRI (Pangab) Jend Wiranto berserta pucuk pimpinan Polri. Tujuannya : mencegah konflik vertikal. Konflik vertikal itu adalah konflik antara massa dengan Pemerintah. Aparat keamanan : Polri dan TNI. Konflik vertikal ini dianggap merugikan. Konflik vertikal merugikan dan merusak citra polisi dan TNI karena cenderung menimbulkan citra bhw Polri dan TNI itu musuh rakyat. Ini berbahaya. Sebab itu Wiranto cs membuat Pam Swakarsa. Massa demo mahasiswa/aktivis dihadapi oleh massa sipil juga. Pamswakarsa ini komandani aktivis mahasiswa. Tapi Pamswakarsa punya kelemahan mendasar. Mudah ditebak sebagai antek Pemerintah dan dibayar. Maka harus ditransformasi ke ormas yg lebih tepat. Maka lahirlah Front Pembela Islam. Semula mau dinamakan Front Pembela Indonesia. Kata “Islam” dipakai karena lebih “startegis” Biaya awal pendirian FPI adalah Rp 250 juta utk sewa markas dan rekrut anggota. Biaya bulanan tidak tentu,antara 50-100 juta. Sumber dana dari TNI dan Polri. Tujuan utama pendirian FPI : garda terdepan pasukan Polisi, pembuat isu, maintain (maintenance) isu, kelola konflik, pengumpul informasi dsb. Peran FPI ini persis konsep BanPol (pembantu polisi) dan Babinsa (bintara pembina desa). Dengan kata lain,FPI menjadi “pasukan marinirnya” Polisi. FPI bergerak berdasarkan sistem komando. Atas dasar instruksi dari petinggi Polri dan TNI. Agendanya jelas dan terarah.
Diawal berdirinya FPI sempat ada “kesalahapahaman” antara anggota FPI dengan aparat polisi yang belum tahu bhw FPI itu “adik kandung” polisi. Ada cerita lucu, pimpinan FPI ditangkap polisi, bawa mobil ga ada SIM& STNK. Kemudian datang pasukan ke polres, seisi Polres ditampar. Atau cerita lucu yang terbaru : Munarman ditilang Polisi..Polisi yg menilang yang ditampar abis2an oleh Munarman. Munarmannya gak diapa-apain. Jadi FPI itu adalah Front Polisi Indonesia yang menyamar sebagai Ormas Islam. Agenda FPI adalah agenda polisi. Berdasarkan laporan CIA malah BIN juga ikut membantu Publik pernah membaca laporan CIA, bhw BIN (Badan Intelejen Negara) membantu milyaran Rupiah setiap tahun ke FPI. FPI itu asset pemerintah untuk “berhadapan” dengan rakyat. Untuk menipu publik, pimpinan FPI dipasang sosok “ulama & tokoh agama”, kata “Islam” dipakai sbg perisai FPI dari serangan/ktritik publik. Tidak ada satu kata atau satu kalimatpun dlm tujuan pendirian FPI utk : Dakwah, syiar Islam, Amar Maruf dst…sama sekali tidak ada!! FPI hanya alat. Pemerintah tahu persis risikonya jika aparat polisi/TNI yg menyerang atau menangkap aktivitas2 elemen rakyat yg dinilai “membahayakan”. Pemerintah khawatir dengan citra Polri/TNI dan pemerintah di mata internasional. Terkait isu HAM, demokrasi dsb. FPI yg “dimajukan” kedepan. Sesekali FPI memang Offiside atau Abused of Power. Serang2 warung maksiat atau judi2 “tak berizin”. Sengaja dibiarkan supaya ada legitimasi. Anggota2 FPI yang Offside itu kadang ditangkap dan ditahan jika banyak sorotan publik, tapi langsung dilepas lagi jika sorotan publik sudah reda Pemerintah dan FPI butuh “legitimasi” agar FPI benar2 dipercaya publik sebagai ormas agama. Bukan sebagai ormas bentukan Polri/TNI. Padahal FPI ditujukan untuk agenda dan tujuan politik praktis pemerintah. Itu sebabnya setiap aksi “pesanan”, Polisi selalu hadir dibelakang FPI. Aggota/kader-kader rendahan FPI sama sekali tidak tahu bahwa FPI itu bentukan, ditunggangi dan jalankan agenda Polisi/Pemerintah. Sentimen mereka dimainkan. Sekarang ini biaya operasional FPI itu rutin dari pemerintah dan dari setoran bandar-bandar narkoba/prostitusi yg sudah “dicuci” dan juga dari hasil pemerasan. Sesekali FPI dibolehkan jalankan “aksi sendiri” utk maintain eksistensi FPI. Tapi aksi utama FPI tetap sbg kepanjangan tangan Polri
Siapakah yang rugi? Jawabnya : Umat islam. Kata “Islam” yg melekat pada FPI memperburuk citra Islam di dalam negeri dan luar negeri. pemerintah aman. Bersih. Tuntutan pembubaran FPI kepada Pemerintah, sampai kiamat tidak akan dipenuhi Pemerintah. Karena FPI itu memang bagian dari startegi Pemerintah. FPI tetap dibutuhkan Pemerintah dalam “penyelesaian kasus-kasus tertentu” yang sensitif, abu2, rawan dan potensial timbulkan konflik horizontal. Satu-satunya cara adalah : ajukan gugatan class action ke MA utk merubah nama FPI dengan cabut kata Islam di FPI atau batalkan SK pendiriannya. Sudah lama nama Islam dirusak, dicemarkan, dimanfaatkan dan ditunggangi oleh FPI/Pemerintah. Sudah saatnya hal itu diluruskan. Umat Islam rugi besar gara-gara itu. Adakah yang meraih keuntungan di balik FPI? Jelas ada, yang untung ya Polri dan Pemerintah, nama mereka bersih, rakyat di adu domba, nama islam tercemar. Isu2 strategis terkendali.
Juni 14, 2012 by sarwonoedi
Penulis; Harry Kawilarang